Gaji, rejeki kita, dan introspeksi diri

Renungan sesaat

Rejeki tak hanya berwujud uang ini kita pahami, dan hidup butuh uang itu pasti._  Uang didapat lewat kerja keras untuk cukupi kebutuhan. Pada kenyataanya, uang yang terkumpul setelah kita hitung2 cenderung tak sebanding dengan pengeluaran belanja rumah tangga kita.

Untuk para pekerja upah/gaji itu dipastikan dapat dan bahkan untuk golongan yang sama gaji/upah per bulan bisa sama, tetapi rejeki cenderung  berbeda. Ada kemungkinan hubungan  gaji dan rejeki seseorang :
1. Gaji besar dan rejeki besar
2. Gaji sedang dan rejeki besar
3. Gaji kecil dan rejeki besar
...
6. Gaji sedang dan rejeki besar
...
7. Gaji kecil dan rejeki besar
8. Gaji kecil dan rejeki sedang
9. Gaji kecil dan rejeki kecil.
Kini kita termasuk yang mana [?]...
_berikutnya mau milih yang mana [?]

Ini sedikit ilustrasi ekstrim hal di atas : Jika kita diberi nikmat sehat; bebas makan minum dan tak banyak larangan medis, inilah harapan jadi  rejeki  kita,  yg tak terbeli  uang (gaji/upah). Sebaliknya, jika   pekerjaan jelas dan gajipun besar,  tapi gerak dibatasi (sakit) dan makan minuman diatur dan minum obat wajib rutin, maka uang tak lebih pada alat bayar mahal perawatan medis, sewa kamar, dan menebus resep obat.

Hati kita, pikiran kita, pola menikmati hidup kita, dan rasa bersyukur  kita,  ...perlu kita tenggok lagi, agar secara sadar kita bisa  cermin diri (muhasabah diri), untuk benah2 lagi, dan agar lebih dekat lagi pada Illahi.

Semoga bermanfaat. Aamiin. 🙏🏻🙏🏻🙏🏻

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ucapan Turut Berduka Cita Untuk Guru

Makna Filosofi Janur